JAKARTA - Industri keuangan Indonesia menunjukkan kinerja yang solid sepanjang tahun 2025, dengan angka-angka yang terus mencatatkan progres positif, salah satunya adalah peningkatan pembiayaan yang turut berperan penting dalam pemulihan ekonomi nasional.
Di 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bertekad mendorong sektor keuangan untuk tumbuh lebih signifikan, dengan target penyaluran kredit yang diperkirakan akan tumbuh antara 10% hingga 12% pada tahun ini.
Menurut OJK, pencapaian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia yang terus bergerak pasca pandemi, sekaligus mendukung berbagai sektor untuk lebih maju, terutama UMKM yang kini menjadi prioritas dalam pengembangan ekonomi domestik.
Penyaluran kredit yang meningkat diharapkan dapat mendorong konsumsi, investasi, dan lapangan kerja, sehingga membuka peluang lebih besar bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.
Optimisme OJK Terhadap Prospek Industri Keuangan 2026
Dalam rapat tahunan yang digelar oleh OJK, pejabat sementara Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan bahwa pihaknya optimistis dengan prospek sektor keuangan Indonesia di tahun 2026.
Hal ini tercermin dari hasil yang diraih pada 2025, di mana industri jasa keuangan telah berhasil melampaui target yang ditetapkan dalam berbagai aspek.
Salah satunya adalah tingkat stabilitas sistem keuangan yang tetap terjaga dengan baik, meskipun ada tantangan global yang mengarah pada peningkatan inflasi dan suku bunga yang berpotensi menekan permintaan kredit.
Sektor perbankan yang menjadi tulang punggung industri keuangan di Indonesia terus menunjukkan ketahanan yang luar biasa. Sebagai bagian dari strategi OJK, industri perbankan diharapkan dapat lebih responsif dalam memenuhi kebutuhan pasar yang semakin beragam.
Sementara itu, OJK terus berkomitmen untuk menjaga kualitas dan stabilitas sektor ini melalui pengawasan yang lebih ketat, serta kebijakan yang proaktif.
Peran Kredit dalam Menunjang Perekonomian Nasional
Di tengah upaya pemulihan ekonomi pasca-pandemi, OJK menilai sektor kredit memegang peranan yang sangat vital. Penyaluran kredit yang lebih besar di tahun 2026 diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional, terutama di sektor-sektor yang terdampak akibat ketidakpastian global.
Friderica menambahkan bahwa, untuk mencapainya, penting bagi industri keuangan untuk berkolaborasi dengan sektor-sektor lainnya, khususnya untuk memberikan dukungan kepada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang dianggap sebagai pilar utama perekonomian Indonesia.
UMKM memiliki kontribusi yang besar terhadap lapangan kerja dan pendapatan nasional, sehingga sektor ini sangat membutuhkan akses yang lebih mudah terhadap pembiayaan agar dapat tumbuh lebih pesat.
Selain itu, OJK juga berfokus pada penyediaan berbagai produk dan layanan yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat, mulai dari produk perbankan hingga asuransi.
Meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap industri keuangan, dengan berbagai kemudahan yang diberikan, dapat mempercepat akselerasi pertumbuhan sektor kredit yang ditargetkan oleh OJK.
Penguatan Akses Pembiayaan bagi UMKM dan Sektor Riil
OJK menyadari bahwa untuk mencapai target pertumbuhan kredit yang optimal, sektor UMKM harus menjadi fokus utama. Dengan memberikan kemudahan akses pembiayaan bagi UMKM, diharapkan akan terbuka banyak peluang bagi sektor riil untuk berkembang.
OJK juga mengharapkan agar sektor perbankan lebih agresif dalam memberikan kredit kepada UMKM, dengan memberikan bunga yang lebih rendah serta prosedur yang lebih cepat dan mudah.
Selain UMKM, sektor lain yang juga perlu mendapat perhatian adalah sektor infrastruktur, yang menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Kredit untuk pembangunan infrastruktur dipandang sangat penting untuk mendukung pembangunan yang merata di seluruh Indonesia.
Dengan adanya infrastruktur yang baik, diharapkan dapat meningkatkan efisiensi ekonomi dan memudahkan masyarakat dalam mengakses pasar.
Industri keuangan yang solid akan sangat mempengaruhi stabilitas sektor riil. Oleh karena itu, OJK terus berusaha untuk memperbaiki ekosistem ini, termasuk dengan mempermudah akses terhadap pembiayaan yang tepat sasaran.
Salah satu langkah yang diambil adalah dengan memperkenalkan berbagai inovasi dalam produk-produk kredit yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan pelaku bisnis.
Keamanan dan Kualitas Layanan Menjadi Prioritas
Di tengah upaya pengembangan sektor keuangan, OJK juga menekankan pentingnya menjaga kualitas dan keamanan layanan keuangan. Keamanan dalam transaksi finansial dan pemanfaatan teknologi digital menjadi hal yang sangat penting.
Dengan meningkatnya penggunaan teknologi dalam transaksi perbankan, OJK terus memastikan bahwa sistem keuangan Indonesia dapat beroperasi dengan aman dan terlindungi dari risiko-risiko yang mungkin timbul.
Selain itu, OJK juga memperkenalkan berbagai kebijakan yang memastikan keberlanjutan layanan keuangan yang berkualitas. Di antaranya adalah dengan meningkatkan literasi keuangan masyarakat, agar mereka lebih paham dalam mengelola keuangan pribadi, serta lebih bijak dalam mengambil keputusan finansial.
Di sisi lain, peningkatan infrastruktur dan pengawasan terhadap lembaga keuangan non-bank juga menjadi salah satu prioritas untuk meningkatkan kualitas layanan di seluruh sektor keuangan.
Dengan demikian, masyarakat dapat merasakan manfaat dari sektor keuangan yang semakin terintegrasi dan modern.
Penutupan dan Harapan untuk 2026
Pada akhirnya, dengan kinerja yang terus meningkat sepanjang tahun 2025, OJK menargetkan industri keuangan untuk dapat tetap tumbuh dan mendukung perekonomian nasional dengan lebih baik di tahun 2026.
Target penyaluran kredit yang diperkirakan akan tumbuh antara 10% hingga 12% ini menjadi simbol optimisme yang tinggi terhadap stabilitas dan keberlanjutan sektor keuangan Indonesia.
Dengan penekanan pada sektor UMKM, peningkatan akses pembiayaan, serta penguatan sistem pengawasan dan keamanan, OJK berkomitmen untuk menciptakan sektor keuangan yang tidak hanya sehat tetapi juga inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
Dukungan dari seluruh stakeholder diharapkan dapat menciptakan perekonomian yang lebih inklusif, mengurangi ketimpangan, dan menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak bagi masyarakat.