JAKARTA - Bencana longsor dan banjir yang melanda kawasan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, tidak hanya meninggalkan duka mendalam, tetapi juga memperlihatkan kuatnya peran lembaga pendidikan keagamaan dalam situasi darurat.
Madrasah dan pesantren di wilayah terdampak menjadi bagian penting dari upaya kemanusiaan dengan membuka ruang belajar mereka sebagai pusat layanan bagi para penyintas.
Peran tersebut mendapat perhatian khusus dari Kementerian Agama. Pemerintah memastikan lembaga pendidikan keagamaan yang terdampak sekaligus berkontribusi dalam penanganan bencana tidak akan dibiarkan menanggung beban sendiri.
Kementerian Agama berkomitmen melakukan rehabilitasi dan renovasi terhadap madrasah serta pesantren yang terdampak longsor dan banjir di Cisarua.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa langkah pemulihan akan dilakukan secara menyeluruh setelah masa tanggap darurat berakhir. Pemerintah ingin memastikan proses belajar mengajar dapat kembali berjalan dengan aman, nyaman, dan layak bagi para siswa serta santri.
Komitmen Rehabilitasi Fasilitas Pendidikan Keagamaan
Dalam keterangannya di Jakarta, Senin, Menteri Agama menyampaikan bahwa rehabilitasi dan renovasi madrasah serta masjid menjadi agenda lanjutan yang akan segera dilaksanakan. Ia menegaskan keluarga besar madrasah dan pesantren tidak akan ditinggalkan dalam proses pemulihan pascabencana.
“Yang segera menyusul adalah rehabilitasi dan renovasi madrasah serta masjid. Kami pastikan keluarga besar madrasah tidak akan merasa sendirian,” ujar Menag Nasaruddin Umar.
Menurutnya, perbaikan fasilitas pendidikan tidak hanya bertujuan memulihkan bangunan fisik, tetapi juga mengembalikan rasa aman dan kenyamanan bagi para santri. Renovasi akan dilakukan secara menyeluruh, termasuk ruang kelas yang sempat dialihfungsikan untuk kebutuhan kemanusiaan.
Menag juga menegaskan bahwa pemerintah akan terus mengawal proses pemulihan hingga seluruh aktivitas pendidikan dapat kembali berjalan normal. Langkah ini dinilai penting agar proses pembelajaran tidak terganggu dalam jangka panjang akibat bencana alam yang terjadi.
“Pascabencana akan tetap kami kawal agar aktivitas pendidikan dapat kembali berjalan normal dan nyaman,” kata Menag.
Pendidikan Karakter Melalui Kepedulian Sosial
Menag memberikan apresiasi tinggi kepada pengelola madrasah dan pesantren yang dengan tulus membuka fasilitas pendidikannya untuk kepentingan kemanusiaan.
Menurutnya, keterlibatan lembaga pendidikan dalam penanganan bencana merupakan wujud nyata pendidikan karakter yang tidak ternilai bagi para siswa dan santri.
“Ini menjadi pembelajaran kemanusiaan yang luar biasa bagi para siswa dan santri. Kepedulian ini adalah nilai yang sangat berharga,” ujar Menag.
Ia menilai pengalaman langsung menghadapi situasi darurat dan membantu sesama akan membentuk empati, solidaritas, serta rasa tanggung jawab sosial para peserta didik. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan tujuan pendidikan keagamaan yang tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga pembentukan akhlak dan karakter.
Menag berharap semangat gotong royong dan kepedulian sosial yang ditunjukkan madrasah dan pesantren dapat menjadi contoh bagi lembaga pendidikan lainnya. Peran aktif lembaga keagamaan dinilai sangat strategis dalam memperkuat ketahanan sosial masyarakat di tengah bencana.
Pemulihan Menyeluruh Pasca Operasi Kemanusiaan
Selain rehabilitasi fisik, Menag juga menekankan pentingnya pemulihan psikologis bagi para santri dan masyarakat terdampak. Ia menyampaikan bahwa renovasi fasilitas akan dilakukan segera setelah seluruh operasi kemanusiaan selesai, termasuk setelah bangunan digunakan untuk penanganan jenazah korban bencana.
“Begitu masa operasi kemanusiaan ini selesai, kita langsung lakukan renovasi,” kata Menag.
Saat meninjau lokasi longsor, Menag turut memberikan penguatan mental dan spiritual kepada keluarga korban. Ia mengajak masyarakat untuk tabah dan meyakini bahwa para korban yang wafat dalam musibah tersebut mendapatkan tempat mulia di sisi Tuhan.
“Orang yang meninggal karena tertimpa runtuhan termasuk dalam kategori syuhada. Insya Allah mereka diterima di sisi Allah Swt,” ujar Imam Besar Masjid Istiqlal tersebut.
Menag berharap madrasah dan pesantren dapat terus diperkuat perannya, tidak hanya sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai pusat kemanusiaan yang hadir di tengah masyarakat saat kondisi sulit.
Dengan dukungan pemerintah dan sinergi berbagai pihak, lembaga pendidikan keagamaan diharapkan mampu bangkit lebih baik pascabencana dan kembali menjalankan fungsi pendidikannya secara optimal.