Menag Sebut Sektor Halal Bisa Meningkatkan Daya Saing Indonesia

Jumat, 06 Februari 2026 | 09:16:48 WIB
Menag Sebut Sektor Halal Bisa Meningkatkan Daya Saing Indonesia

JAKARTA - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengungkapkan bahwa sektor halal memiliki potensi besar untuk memperkuat daya saing Indonesia di pasar global. 

Dengan basis pasar yang luas dan terintegrasi, ekonomi halal dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia, memperluas akses pembiayaan, dan meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai nilai global. 

Hal ini disampaikan Nasaruddin dalam forum Indonesia Economic Summit (IES) 2026, yang juga menjadi momentum penting bagi pengembangan sektor halal Indonesia.

Potensi Ekonomi Halal untuk Indonesia

Dalam sesi Indonesia-Business 57+ (B57+) Roundtable, Nasaruddin menjelaskan bahwa Indonesia memiliki basis pasar yang sangat besar, yang menjadi keunggulan tersendiri dalam pengembangan sektor ekonomi halal. 

Dengan sistem yang terintegrasi dari hulu ke hilir, sektor ini diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi, memberikan akses pembiayaan yang lebih luas, serta meningkatkan daya saing Indonesia di kancah global.

“Ekonomi halal merupakan salah satu penggerak penting perekonomian Indonesia. Dengan basis pasar yang besar dan terintegrasi dari hulu ke hilir, ekonomi halal mampu mendorong pertumbuhan, memperluas akses pembiayaan, serta meningkatkan daya saing Indonesia dalam rantai nilai global,” kata Nasaruddin. 

Pernyataan ini menegaskan pentingnya sektor halal dalam memperkuat posisi Indonesia di pasar internasional, baik dalam hal perdagangan maupun investasi.

Indonesia Siap Jadi Hub Ekonomi Islam Asia-Pasifik

Sektor halal yang berkembang pesat memberikan Indonesia kesempatan untuk menjadi hub perdagangan dan investasi Islam di kawasan Asia-Pasifik. 

Ketua Dewan Pengawas Indonesian Business Council (IBC), Arsjad Rasjid, menyatakan bahwa Indonesia memiliki keunggulan geografis dan reputasi yang kuat di dunia Islam. 

Hal ini menjadikan Indonesia sebagai titik temu bagi pelaku usaha Muslim dan peluang bisnis besar, baik dalam bentuk kemitraan maupun investasi.

"Indonesia punya keunggulan geografis dan kepercayaan dari negara-negara Muslim. Kami siap menghubungkan pelaku usaha Muslim dengan peluang bisnis nyata, dari kemitraan hingga investasi besar. Dan kami juga terbuka untuk bekerja sama dengan investor global yang tertarik dengan ekonomi Islam,” ungkap Arsjad. 

Hal ini mempertegas posisi Indonesia sebagai negara yang dapat menghubungkan negara-negara Muslim dengan berbagai peluang ekonomi yang ada di seluruh dunia.

Meningkatkan Konektivitas Ekonomi Antarnegara Muslim

B57+ yang merupakan platform inklusif yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, dan mitra internasional, berperan penting dalam memperkuat konektivitas ekonomi antarnegara Muslim. 

Platform ini bertujuan untuk membahas strategi konkret guna memperkuat kerjasama ekonomi antar negara-negara Muslim dan mitra strategisnya. Dalam hal ini, Indonesia diposisikan sebagai simpul utama kerja sama, terutama dalam sektor ekonomi halal dan perdagangan.

Pembentukan B57+ Asia-Pacific Chapter yang diluncurkan pada 3 Februari 2026 di IES 2026 menunjukkan bahwa Indonesia memiliki peran strategis dalam memperkuat konektivitas ini. Arsjad Rasjid menambahkan bahwa negara-negara Muslim memiliki skala pasar dan basis produksi yang sangat besar. 

Namun, untuk memaksimalkan potensi tersebut, diperlukan konektivitas yang lebih kuat antarnegara Muslim, dan Indonesia dapat memainkan peran penting dalam proses tersebut.

“Negara-negara Muslim memiliki skala pasar dan basis produksi yang luar biasa besar, namun potensi ini dapat dimaksimalkan melalui konektivitas yang lebih kuat, di mana Indonesia dapat menjadi sentral dari konektivitas ini,” kata Arsjad. 

Indonesia, dengan populasi Muslim terbesar dan pertumbuhan ekonomi yang stabil, menjadi negara yang memiliki peran vital dalam memperkuat ekonomi dunia Islam.

Peran Vital Indonesia dalam B57+ Asia-Pacific

B57+ Asia-Pacific Regional Chapter, yang merupakan bagian dari inisiatif B57+, mendapatkan dukungan penuh dari berbagai pihak, termasuk Presiden Islamic Chamber of Commerce and Development (ICCD) dan Chairman of the Federation of Saudi Chambers of Commerce, Abdullah Saleh Kamel. 

Abdullah menilai bahwa B57+ dapat menyediakan kerangka kerja yang lebih praktis bagi pelaku usaha di negara-negara Islam untuk saling terhubung dan meningkatkan kerjasama.

“B57+ menyediakan kerangka kerja yang lebih praktis bagi pelaku usaha di negara-negara Islam untuk saling terhubung. Peran Indonesia sangat vital,” ungkap Abdullah. 

Dukungan ini mempertegas pentingnya peran Indonesia sebagai negara yang menjadi penghubung utama dalam jaringan ekonomi global, khususnya yang berkaitan dengan ekonomi halal dan pasar negara-negara Muslim.

Dengan basis pasar yang luas, keunggulan geografis, dan posisi strategis Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, sektor halal menjadi peluang besar untuk meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global. 

Inisiatif seperti B57+ membuka ruang bagi Indonesia untuk menjadi hub perdagangan dan investasi Islam yang dapat memperkuat konektivitas antarnegara Muslim dan mitra internasional. 

Dukungan dari berbagai pihak dan pelaku usaha semakin menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pusat ekonomi halal yang berdaya saing di pasar global.

Terkini

Red Rocks Dinobatkan Sebagai Venue Konser Terindah Dunia

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:30:53 WIB

5 Rekomendasi Jenis Susu Paling Sehat Menurut Ahli Gizi

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:30:51 WIB

7 Makanan Alami Efektif Menahan Rasa Lapar Lebih Lama

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:30:45 WIB

Salmon Dan Kembung Mana Lebih Unggul Kandungan Nutrisinya

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:30:41 WIB