Kepemilikan Saham Antam di IBC Naik Jadi 33,75%

Selasa, 03 Februari 2026 | 11:07:50 WIB
Kepemilikan Saham Antam di IBC Naik Jadi 33,75%

JAKARTA - Perubahan struktur kepemilikan saham terjadi di tubuh Indonesia Battery Corporation (IBC) seiring penguatan peran holding industri tambang nasional. 

PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) kini memperbesar porsi kepemilikan sahamnya di IBC, menandai langkah strategis dalam mendukung pengembangan industri baterai kendaraan listrik terintegrasi di dalam negeri.

Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif mengungkapkan bahwa porsi kepemilikan saham Antam di PT Industri Baterai Indonesia (IBI) bertambah menjadi 33,75%. 

Informasi tersebut disampaikan dalam rapat dengar pendapat Komisi XII DPR RI pada Senin (2/2/2026). Penyesuaian komposisi saham ini dilakukan di lingkungan badan usaha milik negara yang tergabung dalam konsorsium IBC.

Perubahan Komposisi Pemegang Saham

Aditya menjelaskan bahwa kepemilikan saham IBC berada di bawah empat perusahaan pelat merah, yakni MIND ID melalui Antam dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum, kemudian PT Pertamina (Persero), serta PT PLN (Persero). Pada awal pembentukan, masing-masing pemegang saham memiliki porsi yang sama besar, yaitu 25%.

Namun, dalam perkembangan terbaru, porsi kepemilikan PLN mengalami penyesuaian menjadi 7,5%. Saham tersebut dialihkan kepada Antam dan Inalum yang berada dalam naungan MIND ID Group. Dengan pengalihan tersebut, kepemilikan saham Antam dan Inalum masing-masing meningkat menjadi 33,75%.

"Kemarin [kepemilikan saham PLN dialihkan kepada] MIND ID Group ya," ucap Aditya saat ditemui usai RDP.

Sementara itu, kepemilikan saham Pertamina melalui Pertamina New & Renewable Energy tetap berada di angka 25%. Dengan struktur ini, MIND ID melalui Antam dan Inalum menjadi pemegang saham mayoritas di IBC.

Meski demikian, Aditya menegaskan hingga saat ini tidak terdapat satu entitas pun yang menjadi pemegang saham pengendali di IBC. Seluruh pemegang saham tetap memiliki peran strategis dalam mendukung pengembangan bisnis perusahaan.

Peran IBC Dalam Industri Baterai Nasional

IBC merupakan perusahaan pelat merah yang bergerak di sektor industri baterai, khususnya untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik atau electric vehicle di Indonesia. Kehadiran IBC menjadi bagian penting dari agenda hilirisasi sumber daya mineral sekaligus transisi energi nasional.

Saat ini, IBC bersama Antam tengah mengembangkan proyek baterai kendaraan listrik di Karawang, Jawa Barat. Proyek tersebut dijalankan bersama Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd (CBL), yang merupakan joint venture antara Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL), Brunp, dan Lygend.

Pengembangan proyek baterai ini dirancang secara terintegrasi, mulai dari sisi hulu hingga hilir. Pada tahap hulu, kegiatan mencakup pengelolaan tambang dan pemurnian mineral dengan teknologi rotary kiln electric furnace dan high pressure acid leaching. Fasilitas tersebut akan dikembangkan di Kawasan Industri PT Feni Haltim (FTH), Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara.

FTH sendiri merupakan perusahaan patungan antara cucu usaha CATL, yakni Hong Kong CBL Limited (HKCBL), dan Antam. Kolaborasi ini menjadi fondasi penting dalam memastikan pasokan bahan baku baterai yang berkelanjutan.

Proyek Terintegrasi Dari Hulu Hingga Hilir

Di sisi hilir, IBC dan mitra strategisnya membangun pabrik sel baterai di kawasan Artha Industrial Hill dan Karawang New Industry City, Jawa Barat. 

Di Karawang, pabrik sel baterai tersebut memiliki kapasitas awal sebesar 6,9 GWh dan direncanakan meningkat menjadi 15 GWh dalam lima tahun ke depan.

Pabrik ini menjadi bagian dari proyek terintegrasi yang mencakup pembangunan pabrik material aktif baterai, seperti prekursor dan katoda, serta fasilitas daur ulang baterai. 

Adapun lini produksi tersebut dirancang menggunakan teknologi mutakhir untuk menghasilkan sel baterai kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi atau battery energy storage system.

Target operasional pabrik sel baterai di Karawang ditetapkan pada 2026. Produk yang dihasilkan tidak hanya ditujukan untuk pasar domestik, tetapi juga untuk memenuhi permintaan ekspor. IBC bersama CBL berkomitmen menjadikan fasilitas tersebut sebagai pusat produksi baterai regional di kawasan Asia Tenggara.

Komitmen ini mencerminkan ambisi Indonesia untuk menjadi pemain penting dalam rantai pasok global industri baterai dan kendaraan listrik.

Komitmen Keberlanjutan Dan Ekonomi Sirkular

Sebagai bagian dari pengembangan industri baterai terintegrasi, IBC dan CBL juga menyiapkan fasilitas daur ulang baterai. Pabrik daur ulang ini dirancang memiliki kapasitas pengolahan hingga 20.000 ton baterai bekas per tahun.

Melalui teknologi yang digunakan, fasilitas tersebut diklaim mampu memulihkan lebih dari 95% logam berharga dari baterai bekas. Proses ini diharapkan dapat menekan emisi karbon sekaligus menjaga prinsip ekonomi sirkular dalam industri baterai.

Dengan rantai siklus yang tertutup dari hulu hingga hilir, IBC menargetkan terciptanya industri baterai yang berkelanjutan, efisien, dan berdaya saing global. 

Penambahan porsi kepemilikan saham Antam di IBC dinilai akan memperkuat sinergi antar-BUMN dalam mendukung agenda hilirisasi dan pengembangan energi bersih nasional.

Terkini

AJB Bumiputera 1912 Ingatkan Pemegang Polis Segera Perbarui

Selasa, 03 Februari 2026 | 15:46:16 WIB

Harga Emas Perhiasan Hari Ini Terbaru 3 Februari 2026

Selasa, 03 Februari 2026 | 15:46:15 WIB

Harga Emas Antam UBS Galeri24 Hari Ini di Pegadaian Terbaru

Selasa, 03 Februari 2026 | 15:46:14 WIB

OJK Sampaikan Arahan Untuk Investor Saat IHSG Melemah Tajam

Selasa, 03 Februari 2026 | 15:46:12 WIB

BNI Laporkan Pertumbuhan Kredit Dua Digit Yang Stabil

Selasa, 03 Februari 2026 | 15:46:11 WIB