Daya Saing Nikel Indonesia Di Tengah Persaingan Baterai Global

Selasa, 03 Februari 2026 | 08:57:10 WIB
Daya Saing Nikel Indonesia Di Tengah Persaingan Baterai Global

JAKARTA - Ketatnya persaingan teknologi baterai global kerap memunculkan kekhawatiran terhadap masa depan nikel Indonesia. 

Munculnya teknologi baterai alternatif seperti lithium iron phosphate atau LiFePO4 (LFP) hingga sodium ion battery sering dianggap sebagai ancaman serius bagi baterai berbasis nikel. 

Namun, Indonesia Battery Corporation (IBC) menilai posisi nikel nasional masih cukup kuat dan memiliki peluang besar untuk tetap bersaing di pasar internasional.

Optimisme tersebut didasarkan pada tren pertumbuhan pasar baterai global yang terus meningkat. Di tengah pergeseran komposisi teknologi, permintaan baterai nickel-mangan-cobalt (NMC) justru menunjukkan peningkatan dari sisi volume. Artinya, tekanan terhadap baterai nikel bukan disebabkan oleh melemahnya minat pasar, melainkan karena diversifikasi teknologi yang berkembang seiring kebutuhan industri kendaraan listrik dan penyimpanan energi.

Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif, menegaskan bahwa baterai berbasis nikel masih memiliki prospek yang menjanjikan. Ia menyampaikan pandangan tersebut dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, 2 Februari 2026.

Permintaan Baterai Nikel Masih Terus Bertumbuh

Menurut Aditya, meskipun teknologi LFP semakin banyak digunakan, hal itu tidak serta-merta menggerus pasar baterai nikel. Secara keseluruhan, pasar baterai dunia justru mengalami pertumbuhan signifikan, sehingga permintaan terhadap katoda jenis NMC ikut meningkat.

“Tapi secara volume sebetulnya katoda jenis NMC itu permintaannya meningkat, karena memang size dari marketnya sendiri meningkat dengan sangat tajam. Apabila kita mengacu pada teknologi per hari ini saja, kita masih sangat optimis bahwa kita bisa memasarkan baterai ion lithium berbasis katoda nikel kita,” kata Aditya.

Ia menjelaskan bahwa perubahan teknologi lebih bersifat komplementer, bukan substitusi total. Baterai LFP banyak digunakan untuk segmen tertentu, sementara baterai NMC tetap dibutuhkan untuk aplikasi yang memerlukan kepadatan energi tinggi, seperti kendaraan listrik jarak jauh.

Dengan kondisi tersebut, Aditya menilai nikel Indonesia masih memiliki ruang besar untuk terus berkembang, selama mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan teknologi yang terus berevolusi.

Teknologi Baru Tetap Membutuhkan Nikel

Selain baterai lithium-ion konvensional, Aditya mengungkapkan bahwa teknologi baterai yang diproyeksikan segera terkomersialisasi adalah sodium ion battery. Teknologi ini menggunakan natrium sebagai pengganti lithium agar biaya produksi menjadi lebih murah dan pasokan bahan baku lebih melimpah.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa salah satu kandidat katoda terkuat untuk baterai sodium ion masih berbasis nikel, besi, dan mangan. Hal ini menunjukkan bahwa peran nikel belum tergantikan sepenuhnya, bahkan dalam teknologi generasi baru.

“Per hari ini teknologi yang akan digunakan untuk baterai jenis sodium ion ini salah satu kandidat kuatnya masih berbasis nikel. To be precise nickel, besi, dan mangan,” ujarnya.

Tak hanya itu, pengembangan solid state battery yang digadang-gadang sebagai teknologi masa depan juga dinilai masih akan melibatkan nikel sebagai material utama. 

Dengan berbagai jalur pengembangan teknologi tersebut, Aditya meyakini nikel Indonesia tetap memiliki relevansi strategis dalam rantai pasok baterai global.

Efisiensi Produksi Jadi Penentu Daya Saing

Meski optimistis terhadap prospek nikel, Aditya mengingatkan bahwa daya saing baterai berbasis nikel tidak bisa hanya bergantung pada tren permintaan atau fluktuasi harga komoditas. Faktor utama yang akan menentukan posisi Indonesia di pasar global adalah efisiensi biaya produksi.

Ia menilai, Indonesia harus fokus melakukan inovasi industri agar proses produksi baterai dan produk turunan nikel menjadi lebih efisien. Salah satu langkah penting adalah memangkas rantai industri yang terlalu panjang, sehingga biaya produksi dapat ditekan secara signifikan.

“Tapi kalau ke depan kita tidak bisa bergantung saja pada volatilitas dari harga nikel. Ke depan kita harus melakukan inovasi bagaimana caranya supaya proses industrinya itu bisa lebih efisien, salah satunya dengan memotong rantai industri sehingga cost-nya bisa kita cut. Oleh karena itu IBC menekankan pentingnya ownership dari teknologi,” tutup Aditya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penguasaan teknologi menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga pemain utama dalam industri baterai global. 

Dengan efisiensi industri dan kepemilikan teknologi yang kuat, nikel Indonesia diyakini masih mampu bersaing di tengah ketatnya persaingan teknologi baterai dunia.

Terkini